6 Cara Jempolan Menangkis Godaan Syahwat Remaja Kekinian
Foto via www.notquittingmydayjob.com

6 Cara Jempolan Menangkis Godaan Syahwat Remaja Kekinian

  • Selasa, 12 April 2016
  • H. Aceng Karimullah
  • Syar'i Romansa

Sungguh berat godaan yang dihadapi oleh kaum remaja masa kini. Di satu pihak mereka dituntut untuk menunda perkawinan tapi di lain pihak godaan syahwat begitu maraknya di sekitar mereka, baik berupa pornografi maupun pornoaksi.

Tidak hanya dari media cetak yang beredar di luaran, tapi juga dari jaringan internet yang bisa masuk ke ruang belajar mereka, atau malah dari gadget yang berada di genggaman mereka. Kalau tidak kuat-kuatnya ketakwaan mereka, bisa-bisa jebollah pertahanan iman mereka.

Lalu, bagaimana agar kita terhindar dari pelanggaran godaan syahwat? Sebagaimana kita ketahui bahwa suatu pelanggaran itu bisa terjadi kalau ada niat  atau keinginan untuk melanggar dari si pelaku dan atau ada kesempatan untuk berbuat pelanggaran. Maka untuk menghindari pelanggaran syahwat yang bisa menghancurkan masa depan kita, ada 6 cara untuk mencegahnya, yaitu :

Pertama, isilah hidup kita dengan memiliki hubungan yang positif. Kepada Allah kita perbanyak ingat kepada Alloh kemudian dengan manusia, bergaullah dengan orang-orang yang saleh. Hubungan ini akan menarik diri kita untuk menjauh dari  hal-hal yang buruk dan mendekatkan kita kepada hal-hal yang baik dan menakjubkan.

Kedua, perbanyaklah mengaji. Mengaji itu seperti menguras sekaligus mengisi kembali pikiran dengan hal yang bersih dan bermanfaat. Kita seperti membersihkan kotoran yang ada di pikiran, menguatkannya untuk berpikir yang manfaat buat kita dan menggali potensi untuk menyelesaikan kegalauan hidup ini dengan cara-cara yang tepat.

Ketiga, mendengarkan nasehat. Inilah proses pencucian otak yang paling mujarab. Ketika kita mendengarkan nasihat, kita seperti “ngecas” jiwa dan pikiran. Nasihat dapat membakar energi muda kita untuk selalu bergelora dan mendorong untuk melakukan perubahan. Kita berubah menjadi lebih baik karena doktrinasi lewat nasihat yang meresap ke dalam jiwa.

Keempat, perbanyaklah berdo'a agar diberi ilham-ilham yang benar. Allah-lah yang Maha membolak-balikkan hati, sehingga kita selalu harus menengadahkan tangan kita untuk meminta kepadaNya. Jenuh, galau dan labil, bisa kita singkirkan melalui doa agar hati ini tenteram dan pikiran menjadi bersih dari yang aneh-aneh.

Dengan keempat langkah awal ini, diharapkan pikiran kita tidak selalu “ngeres” dan akan timbul perasaan takut dan malu bila berbuat pelanggaran, sehingga tidak terbesit pikiran atau niat untuk berbuat dosa.

Kelima, hindari kesempatan yang memungkinkan terjadinya pelanggaran. Diantaranya janganlah ber-khalwat atau berduaan antara laki-laki dan perempuan yang bukan mahromnya. Jangankan orang yang sebelumnya memang punya keinginan untuk melanggar, sedangkan orang yang tidak punya niat melanggar pun, bila kesempatan untuk melanggar telah terbuka di hadapannya, bisa saja imannya yang semula kokoh pun kemudian runtuh dan terpengaruh.

Seperti dikisahkan dalam Al-Qur’an surah Yusuf ayat 24 yang artinya : “Sesungguhnya si wanita telah bermaksud (selingkuh) dengan Yusuf, dan Yusuf pun telah bermaksud pula dengan wanita itu andai kata dia tidak melihat tanda dari Tuhannya”. Nabi Yusuf saja hampir terperosok karena ketika itu mereka dalam keadaan berduaan, untunglah Allah masih melindunginya dari godaan syetan.

Memang begitulah bahayanya ber-khalwat alias “menyepi”. Rasulullah SAW pernah bersabda : “Tidaklah berdua-duaan seorang lelaki dengan seorang perempuan yang bukan mahromnya kecuali yang ketiganya adalah syetan”. (HR Al-Bukhari). Katakanlah si laki-laki tidak ada niatan untuk berbuat pelanggaran, tapi kalau si perempuannya yang berinisiatif dan agresif maka bisa jadi si laki-laki pun luluh lantah imannya.

Perlu kita ketahui bahwa kondisi “berduaan” itu bisa saja bermula dari hanya sekedar iseng, SMS-an, teleponan atau chatting-an yang kemudian mereka berdua sepakat untuk “kopi darat”. Maka perbuatan iseng lewat SMS, telepon maupun chatting itu pun perlu dihindari.

Last but not least, Rasulullah SAW menganjurkan kepada para remaja untuk memperbanyak puasa sunnah dalam rangka mengendalikan dorongan syahwat. Sabda Beliau : “Barang siapa yang belum mampu menikah maka berpuasalah karena puasa itu berfungsi sebagai benteng baginya(HR Al-Bukhari). Akhirnya, kepada Allah-lah kita berlindung karena tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan-Nya.