Anak-anak Tidak Belajar Dari Hukuman Yang Menganiaya Mereka
Foto via www.babble.com

Anak-anak Tidak Belajar Dari Hukuman Yang Menganiaya Mereka

  • Selasa, 26 April 2016
  • W Diana Ratri, S.Psi
  • Generasi Emas

Ingatkah Anda bagaimana rasanya dihukum? tentu tidak menyenangkan bukan? Siapa pun tidak senang dihukum, termasuk juga anak-anak.

Hukuman itu adalah suatu balasan atas perbuatan yang kita anggap kurang pas dari anak. Niat kita untuk mengajarkan anak itu tentulah sangat baik. Tetapi yang perlu diingat adalah bagaimana kita sebagai orang tua, sudahkah kita menghukum anak kita dengan tepat sasaran dan benar-benar mengajarkan? Atau malah “menghajarkan”?

Hukuman bukanlah cara yang positif untuk menumbuh kembangkan anak-anak secara kognitif (pikiran), emosi (perasaan), maupun konatif (tindakan/keterampilan).

Secara kognitif hukuman akan membuat anak menjadi kurang terstimulasi pikirannya untuk menyelesaikan permasalahan yang dihadapi. Emosinya juga menjadi tidak sehat karena dipenuhi dengan rasa bersalah atas tindakan yang telah dilakukannya. Terlebih lagi, jika hukuman disampaikan dengan gaya bahasa yang keras nantinya akan merendahkan harga diri anak dan membuat anak merasa sangat “kecil” dibandingkan dengan yang lain.

Emosi anak yang sedang dihukum tentu merasa sedih, kecewa, marah, dan emosi lain yang bersifat negatif akan terus bermunculan. Terlebih jika hukuman yang diberikan juga diceritakan kepada orang lain, itu akan membuat anak menjadi malu dan rendah diri. Jika hal ini terjadi secara berkepanjangan, maka akan tumbuh rasa kebencian anak terhadap orang tua karena hukuman yang diberikan.

Hukuman yang diberikan juga akan membuat anak menjadi kurang memiliki keterampilan dalam meghadapi masalah dan menyelesaikannya. Hukuman dalam bentuk kemarahan misalnya. Anak hanya akan melihat penolakan yang dilakukan orang tua dan bukan melihat pendidikan dari orang tua. Meskipun terkadang orang tua mengatakan “Ibu menghukum kamu supaya kamu mengerti dan tidak mengulanginya lagi,” akan tetapi saat itu anak belum dapat menerimanya sebagai bentuk pendidikan dari orang tua terhadap anak.

Bagaimana ketika anak bersalah? Terimalah secara positif bahwa kesalahan anak terjadi karena proses belajar yang belum terselesaikan. Tugas kita sebagai orang tua untuk membantu anak menyelesaikan proses belajar. Ingatlah, Nabi Muhammad mengajarkan kita bagaimana hukuman itu datang,  pukulan yang tidak menganiaya datang setelah tiga tahun anak mulai belajar salat.

W Diana Ratri, S.Psi

W Diana Ratri, S.Psi [Kontributor]

Psikolog, Asesor SDM, Konsultasi Psikologi, Lembaga Pengembangan Kualitas Manusia, Fakultas Psikologi UGM Yogyakarta