Diet Gadget untuk Anak-Anak
Foto via www.inhabitots.com

Diet Gadget untuk Anak-Anak

  • Senin, 04 April 2016
  • Rizki Amelia
  • Generasi Emas

Bermain adalah hal yang biasa dilakukan oleh anak-anak. Mereka belajar mengenai dunia sekitarnya dengan bermain. Dengan perkembangan teknologi yang semakin pesat, bermain mengalami pergeseran makna dimana bermain lebih identik dengan gadget seperti iPad, tablet, smartphones dan lain-nya.

Pada tahun 2007, Australian Communication and Media Authority Survey menunjukkan bahwa anak usia 0-4 tahun menghabiskan sekitar 5 jam dan 48 menit per hari di depan televisi. Angka terseebut menunjukkan bahwa anak-anak adalah penonton paling tinggi dalam keluarga. Kemudian di Inggris, berdasarkan survey Hozelock, dua per tiga anak-anak akan mengambil gadget untuk menghabiskan waktu, dan sepertiga lainnya menghabiskan waktu kurang dari dua jam bermain di taman.

Dengan perkembangan teknologi yang terjadi, angka tersebut mungkin bertambah jika digabungkan dengan aktivitas digital oleh anak-anak. Anak-anak dapat dengan mudahnya mengakses dan mengoperasi gagdet tersebut. Mereka dapat membeli aplikasi permainan sesuai dengan keinginan mereka, menonton acara favorit mereka menggunakan aplikasi YouTube dsb.

Perlahan-lahan permainan tradisional (yang berhubungan dengan motorik dan fisik seperti petak umpet, role play, dan bermain lego) mulai tergantikan kedudukannya oleh permainan digital. Isu ini cukup menarik untuk dibahas lebih lanjut. Apakah permainan digital lebih menguntungkan daripada permainan traditional? Berapa banyak waktu yang sebaiknya dihabiskan oleh anak-anak di depan gadget?

Keuntungan dan kerugian dari permainan digital

Anak-anak menyukai ide tentang tempat bermain virtual dimana mereka bisa membuat karakter sesuai dengan keinginan mereka, menumpahkan imajinasi mereka dalam membangun rumah atau kota dan berinteraksi sosial. Konsep tempat bermain virtual ini memudahkan mereka untuk mengaksesnya dimana saja dan kapan saja.

Permainan digital mendukung interaksi sosial tetapi itu bersifat virtual. Berinteraksi dengan komputer dan manusia itu berbeda. Interaksi dengan manusia dilakukan dua arah yang memungkinkan anak-anak untuk berkomunikasi dan bertukar kosakata baru dengan lawan bicaranya. Hal ini melatih anak-anak untuk beragumen dan bernegosiasi dalam menyampaikan pikiran mereka. Interaksi sosial yang terjadi dengan komputer bisa dibilang hanya berjalan satu arah karena komputer sudah terprogram dalam menjawab suatu pertanyaan.

Verekenina, dosen Universitas Wollonglong, Australia, menjelaskan bahwa permainan digital membatasi pengalaman anak-anak dalam belajar. Anak-anak yang kebanyakan dari waktunya tersita oleh permainan digital mengakibatkan berkurangnya explorasi dengan indra peraba. Sentuhan atau indra peraba adalah alat komunikasi dan belajar dalam pendidikan usia dini. Karena anak-anak terbiasa dengan konsep sentuhan di gadget (swipe, touch, drop dan drag), mereka tidak ada keinginan untuk bermain dengan air, tanah, dan pasir.

42% dari penduduk Amerika setuju dalam survey yang mengatakan bahwa pada tahun 2020 para pengguna teknologi muda nantinya akan mudah teralihkan perhatiannya, kurangnya keterampilan dalam berpikir, dan hanya menyukai sesuatu yang instan. Prediksi ini mungkin terjadi, oleh karena itu sebagai orang tua dan pendidik ada baiknya kita membatasi akses gadget kepada anak-anak. Anak-anak adalah calon pemimpin bangsa. Merekalah yang akan memimpin negara ini di masa depan.

Perkembangan teknologi tidak dapat diabaikan keberadaannya. Oleh karena itu, dibutuhkan keseimbangan antara permainan digital dan permainan traditional seperti ada nya pembatasan waktu dalam bermain dengan gadget. American Academy of Pediatrics  merekomendasikan bahwa televisi dan media entertainment lainnya sebaiknya dijauhi untuk bayi dan anak dibawah dua tahun. Otak berkembang dengan cepat selama tahun pertama dan anak-anak belajar dengan baik ketika mereka berinterkasi dengan orang bukan layar. Sebagai orang tua dan pendidik, ada baiknya selektif dalam memilihkan konten aplikasi untuk anak-anak. Mereka masih butuh pengawasan dan bimbingan. Orang tua jangan khawatir jika anaknya kekurangan waktu bermain dengan gadget.

Rizki Amelia

Rizki Amelia [Kontributor]

Seorang mahasiswi program master pendidikan anak usia dini di Monash University. Lulus sebagai sarjana Sastra Belanda dari Universitas Indonesia. Pernah mengajar di Netherlands International School sebelum melanjutkan pendidikannya di Australia. Sangat suka bisa mengajar anak-anak karena mereka adalah makhluk yang menyenangkan. Kita bisa sambil belajar suatu hal ketika bermain bersama mereka