Hikmah Menikah Dari Allah Kepada Nabi Adam Dan Anak Turunnya
Foto via www.themuslimvibe.com

Hikmah Menikah Dari Allah Kepada Nabi Adam Dan Anak Turunnya

  • Jum'at, 06 Mei 2016
  • H. Aceng Karimullah
  • Syar'i Harmonis

Allah menciptakan Adam sebagai manusia  pertama. Kemudian diciptakan-Nya Hawa sebagai jodohnya dengan maksud agar Adam:

1. Merasa tenteram hidupnya. Demikianlah yang tersirat dalam Alquran surat Al A’raf ayat 189. Jadi, menikah itu sudah disyariatkan sejak jaman Nabi Adam. Rasulullah Nabi Muhammad SAW menyabdakan tentang kehidupan dirinya: “Aku di malam hari bertahajud tapi juga tidur. Di siang hari kadang berpuasa, kadang juga tidak puasa. Dan akupun menikah. Barang siapa yang benci pada sunnahku maka dia bukan golonganku.” (HR. Muslim). Selanjutnya beliau menganjurkan: “Wahai para pemuda, barang siapa yang sudah memiliki kemampuan untuk menikah maka menikahlah.”

2. Menikah itu dapat lebih mengendalikan pandangan dan mencegah pelanggaran syahwat”. (HR. Bukhari).

3. Hikmah selanjutnya dari menikah adalah membawa rezeki. Sebagaimana janji Allah: “Nikahkanlah orang-orang yang sendirian diantara kalian, baik laki-laki maupun perempuan. Kalau mereka dalam keadaan fakir, Allah akan memberi mereka kecukupan.” (QS. An Nuur: 32). Sebagaimana Rasulullah SAW menyabdakan: “Menikahlah kalian, karena istri itu bisa mendatangkan rezeki.(HR. Al Hakim).

Orang yang sudah menikah biasanya lebih bisa mengatur keuangannya. Ketika masih lajang gajinya habis untuk sendiri. Tapi setelah punya istri jadi cukup untuk berdua, malah masih bisa menabung. Begitulah kalau Allah memberi rejeki.

4. Bila seseorang meninggal dunia maka putuslah semua amalannya. Karena dia sudah tidak bisa lagi salat, puasa, maupun ibadah yang lain. Tapi ada tiga hal yang bisa tetap mengalirkan pahala meskipun yang bersangkutan sudah terbujur di alam kubur, yaitu: “sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat dan anak sholih yang selalu mendoakannya.(HR AbuDawud). Sedangkan anak yang sholih hanya bisa dimiliki oleh orang yang sudah menikah.

5. Orang yang menikah juga akan mendapat pahala yang lebih banyak. Karena apa yang dia berikan untuk anak dan istrinya berupa sandang, pangan, maupun papan akan bernilai sedekah di sisi Allah.

Sampai-sampai hubungan badan dengan istrinya pun bisa menjadi pahala. Begitulah yang disabdakan oleh Rasulullah. Maka para sahabat bertanya: “Apakah betul, Ya Rasulullah, bahwa orang melampiaskan syahwatnya kepada istrinya bisa menjadi pahala?” Rasulullah menjawab: “Bukankah kalau dia menyalurkannya kepada selain istrinya akan menjadi dosa? Berarti kalau dia menyalurkannya kepada istrinya tak pelak akan menjadi pahala.” (HR. Muslim)