Jenahara Nasution, Desainer Busana Muslimah yang Terinspirasi Sang Ibu
Foto via

Jenahara Nasution, Desainer Busana Muslimah yang Terinspirasi Sang Ibu

  • Sabtu, 10 Oktober 2015
  • Dian Aulia
  • Sosok

Buah tidak jatuh jauh dari pohonnya. Seorang ibu sudah pasti menjadi panutan bagi setiap anaknya. Sekarang tinggal bagaimana sang anak mengapresiasikan kasih sayang dan ajaran yang telah diberikan oleh sang Ibu.

Sejak berumur empat tahun, Nanida Jenahara Nasution sudah bercita-cita menjadi seorang perancang busana. Sang ibu, Ida Royani, artis sekaligus perancang busana muslimah ternama di tanah air, menjadi inspirasinya dalam meniti karir sebagai desainer baju muslimah. Jehan, panggilan akrab Jenahara Nasution, sudah familiar dengan dunia fashion sejak kecil. Ketika sang ibu bekerja, Jehan sering ikut untuk melihat berbagai jenis kain dan model busana.

Dibesarkan di lingkungan keluarga yang mencitai seni, setelah lulus dari Sekolah Menengah Atas, Jehan pun melanjutkan pendidikannya di Susan Budiharjo Fashion Design School. Hal ini adalah bentuk dukungan dari kedua orang tua Jehan, guna merai cita-citanya tersebut. Putri kelima dari Keenan Nasution, musisi, penyanyi dan anggota grup band Sabda Nada ini, tidak serta merta langsung belajar mendesain baju muslim, dia pun belajar merancang model busana lain seperti desainer pada umumnya. Namun, memang sudah sejak awal Jehan bermimpi untuk memiliki brand fashion sendiri, yaitu Jenahara.

Di tahun 2005, setelah menyelesaikan pendidikannya, Jehan dan teman-temannya mencoba untuk mengembangkan brand baju umum. Alasan Jehan menjalani bisnis ini adalah karena dia sempat tidak percaya diri untuk membuat brand sendiri, karena pada saat itu dia merasa hijab belum menjadi trend. Ketika Jehan meluncurkan brand bersama teman-temannya ini, sang ibu sempat kecewa, karena Jehan tidak membuat brand baju muslim sendiri. Namun, sangat disayangkan kerjasama ini hanya berjalan setahun. Tahun-tahun berikutnya, Jehan lantas disibukkan dengan persiapan pernikahan dan kehidupan keluarga barunya. Disela-sela waktu yang dia miliki saat merawat kedua anaknya, Jehan tidak menghilangkan kesempatan untuk memikirkan konsep yang ingin ia kembangkan untuk brand miliknya sendiri. Dia tetap ingin menggapai mimpinya, sambil menunggu waktu yang tepat. Dari sini dia belajar otodidak, mulai dari trend busana lokal hingga mancanegara.

Sekitar tahun 2010, pasar yang ditunggu oleh Jehan akhirnya datang juga. Di tahun ini hijab mulai menjadi trend. Wanita-wanita muslim mulai berhijab dengan gaya unik dan kreatif. Banyak komunitas hijab yang terbentuk. Tak ingin melewatkan kesempatan, dipenghujung tahun 2010 Jehan segera mewujudkan pemikirannya, yakni menciptakan brand fashion muslimah karyanya sendiri, Jenahara. Sebagai langkah awal untuk Jenahara, dia membuat 200 pieces produk busana, yang terdiri dari pakaian, kerudung dan lainnya hanya dengan modal Rp. 10 juta.

Meskipun sang ibu, Ida Royani menjadi panutannya, wanita kelahiran Jakarta ini tidak mau menggunakan ketenaran sang ibu untuk mendongkrak keberhasilannya. Saat Jehan meresmikan Jenahara pada April 2011, justru sang ibu tidak mengetahuinya secara langsung. Jehan ingin memberikan kejutan kepada ibunya, karena ia tidak ingin berada dibawah bayang-bayang kepopularitasan sang ibu.

Dalam karyanya Jenahara, Jehan sering menggunakan gaya yang simetris, sehingga nampak sangat stylish, unik, fashionable, dan lekat dengan nuansa hitam namun tetap syar’I dan busana tersebut tetap dapat digunakan untuk keperluan sehari-hari. Hal ini dibuktikan dengan larisnya produk Jenahara di beberapa wilayah di Indonesia. Dia mengakui bahwa koleksinya tersebut terpengaruh oleh desainer Amerika Michael Kors, desainer Eropa Michael Herz, serta desainer Inggris Michael Young.

Orang-orang banyak yang tidak tahu kalau Jehan Nasution itu adalah anak dari Ida Royani, sampai suatu saat di akhir tahun 2011, dia meluncurkan merek Jenahara by Ida Royani. Banyak yang bertanya kepadanya, menapa dia berkolaborasi dengan Ida Royani, dari sinilah Jehan mulai dikenal sebagai putri dari Ida Royani dan Keenan Nasution.

Saat ini Jehan sudah memiliki 20 orang penjahit untuk karya-karyanya. Di luar dugaan Jehan, ternyata progress bisnis yang ia tekuni ini sangat pesat. Hal ini didukung oleh hasil karyanya yang diminati masyarakat luar negeri saat ikut pameran “Fashion Week” di Milan, Paris, Tokyo, Hongkong dan Bangkok.

Ia semakin optimis akan potensi desain brand karyanya di tahun-tahun mendatang. Karena tidak dapat dipungkiri bahwa Indonesia memiliki masyarakat muslim yang banyak, dan belakangan ini banyak anak muda yang modern dan stylish namun tetap menggunakan hijab. Selain Jenahara untuk produk ready to wear, dan Jenahara by Ida Royani, karya lainnya yang sedang dia handle sekarang adalah Jenahara Nasution untuk desain busana yang ekslusif dan limited.

Istri dari Ari Galih Gumilang ini tidak hanya menjadi seorang desainer, karena kepeduliannya dan kecintaannya terhadap musllimah, dia membentuk Hijabers Community Indonesia dan sekaligus menjadi ketuanya. Hijabers Community Indonesia  yaitu wadah beranggotakan muslimah-muslimah yang ingin mengembangkan diri mulai dari outer beauty hingga inner beuty. Anggota dari komunitas ini kemudian dikenal sebagai hijabers. Para hijabers mempunyai kegiatan rutin yang bermanfaat mulai dari pengajian, charity hingga talkshow.

Menjadi seorang yang berbakat, cantik, sukses, dan soleha adalah impian dari setiap wanita. Setiap wanita mempunyai kesempatan yang berbeda dalam meraih impiannya tersebut. Jangan berkecil hati karena tidak memiliki bakat atau pun kesempatan seperti orang lain. Menjadi seseorang yang orangtua kita dambakan adalah hal yang lebih baik. Tentu saja hal itu tidak lepas dari keinginan anak dan dukungan dari orang tua. Seorang Jehan yang terinspirasi sang ibu, namun berjuang dengan kemampuannya sendiri untuk mencapai cita-citanya dapat dijadikan salah satu contoh untuk meraih kesuksesan di masa depan.

Dian Aulia

Dian Aulia [Kontributor]

Sudah 23 tahun menjadi warna negara Indonesia, namun baru 1 (satu) tahun terakhir ini menjadi anak Jakarta. Lahir di Bandung bertepatan dengan Hari Kanker Anak Sedunia. Latar belakang pendidikan rekayasa bangunan, dan sekarang bekerja sebagai perancang bangunan. Memiliki 3 (tiga) orang kakak dan 1 (satu) orang adik. Alhamdulillah, Ayah dan Ibu masih tinggal bersama di Kota Karawang