Kisah Perusak Sepeda nan Santun dari Jepang
Foto via Selembar pesan dan uang senilai 1.000 Yen sebagai permohonan maaf

Kisah Perusak Sepeda nan Santun dari Jepang

  • Sabtu, 18 Juni 2016
  • Om Jepang
  • Cakrawala

Puasa adalah ibadah yang mengajarkan kita untuk selalu bersabar. Ini menjadi medan perang untuk selalu melawan hawa nafsu. Nafsu untuk tidak makan dan minum, marah hingga menahan syahwat kita. Sejatinya, itulah makna kita dalam beribadah.

Ibadah ritual yang kita lakukan pada ujungnya adalah untuk terus menyempurnakan akhlak kita di mata sesama makhluk Allah. Itulah nanti yang  akan mampu mengantarkan kita masuk ke dalam surga atau malah terperosok ke dalam neraka. Merekalah yang akan menjadi saksi hidup kita di dunia saat Yaumul Hisab.

Ibadah sebagai bentuk ketaatan kepada Allah selalu memberikan hikmah kepada kita agar selalu jujur dan bertanggung jawab. Hikmah yang Allah berikan bisa melalui apa saja, termasuk cerita dari negeri matahari terbit, Jepang yang satu ini.

Sebuah cerita dari seorang teman yang dalam musibahnya tetap dapat menikmati manisnya perilaku seseorang yang jujur dan bertanggung jawab. Cerita ini insyaAllah dapat memberikan hikmah sekaligus menyentil apabila kita belum bisa berakhalakul karimah.

Uang dalam Lipatan Kertas

Beberapa waktu lalu di wilayah timur Jepang, tepatnya Chiba, ada sepeda yang roboh saat berada di parkiran. Pemilik sepeda yang mendapatinya saat kembali tidak mempunyai ide kenapa sepedanya terjatuh dan siapa yg merobohkannya. Kemudian membangunkan sepedanya yang roboh. Di situ ia melihat ada sebuah lipatan kertas di depan keranjang yang tergeletak bersama sepedanya.

Si pemilik sepeda tersebut merasa penasaran dan akhirnya membuka kertas tersebut. Ia melihat ternyata di dalam lipatan kertas tadi ada uang 1.000 Yen (Rp 125.000). Selain uang itu ia juga menemukan sebuah tulisan di atas kertas yang isinya:

自転車を倒してベルをこわしてしまいました。申し訳ありません。

Jitensya wo taoshite beru wo kowashite shimaimashita. Moushiwake arimasen.

"Mohon maaf tadi saya merobohkan sepeda kamu, sehingga bel sepeda ini rusak,” begitulah isi pesan dalam kertas yang tergeletak dekat keranjang.

Pemilik sepeda tersebut mengerti betul maksud pesan dari orang yang telah mengakui bahwa ia sudah merobohkan sepeda yang terparkir itu. Dia merasa bersalah dan memberikan uang ganti untuk membeli kembali bel yang baru dari bel sepeda yang dirusaknya.

Tetapi apa yang terjadi sungguh mengherankan. Betapa harga bel sepeda di Chiba yang cuma sekitar 100 Yen atau apabila ditambah pajak hanya sebesar 108 Yen (Rp 13.500) digantikan dengan selembar uang 1.000 Yen. Kejadian ini sungguh luar biasa. Sang pelaku perobohan sepeda tadi memberikan uang ganti hingga 10x lipat.

Sebuah contoh kejujuran dan tanggung jawab dari seseorang yang kita tidak pernah tahu sebelumnya agama apa yang dia anut. Warga Jepang itu mampu mengakui kesalahannya dan memberikan ganti yang jauh berlipat-lipat. Ini layaknya hadiah atas penyesalan dari apa yang telah ia lakukan terhadap sepeda teman saya. Saya bersyukur sekali bisa mendapatkan cerita ini.

Saya kembali heran dengan cara hidup warga asli Jepang. Mayoritas masyarakat Jepang adalah tidak beragama dan banyak juga yang sudah tidak percaya dengan adanya Tuhan. Tapi mereka mampu bersikap sejujur ini.

Saya sendiri sudah 3 kali kehilangan barang tapi semuanya bisa kembali lagi. Saat saya sibuk kuliah dan tidak ada waktu mengurusinya, mereka dengan sukarela mau mengirimkan barang milik saya yang ditemukannya.

Cerita ini sangat menggelitik saya untuk selalu berbuat baik terhadap sesama. Sebagai umat Islam, saya merasa harus lebih baik lagi sebagai makhluk sosial. Tujuannya adalah saya juga akan menjadi makhluk yang mulia di sisi Allah. Semoga di bulan ramadan ini sekelumit cerita yang saya bagi bisa menjadi hikmah bagi kita umat Islam.