Matt Palmer, Saya belajar banyak, orang-orang Islam yang saya ajak bicara itu lebih nyaman
Foto via www.abc.net.au, Aunty Halima bercerita tentang ibunya sebagai panutannya. (Foto oleh Matt Palmer)

Matt Palmer, Saya belajar banyak, orang-orang Islam yang saya ajak bicara itu lebih nyaman

  • Senin, 02 Mei 2016
  • Fachrizal Wicaksono
  • Cakrawala

Kehidupan, ambisi, dan kepercayaan lebih dari 40 anggota komunitas muslim Brisbane telah dimasukkan ke dalam sebuah proyek baru yang bertujuan untuk menghilangkan kesalahpahaman tentang Islam dan umatnya.

Matt Palmer, fotografer dokumenter pemenang penghargaan telah meng-capture 41 muslim yang tinggal di ibukota Queensland untuk proyek online-nya, “Faces of Islam.”

Selama tiga hari awal bulan April, ia duduk bersama dengan anak-anak, pekerja komunitas, pengacara, dokter, seorang tokoh tetua adat dari Thursday Island, dan banyak lainnya. Mereka berbagi cerita seperti misalnnya bagaimana perjalanan mereka ke Australia dan bagaimana mereka mengatasi kehilangan orang yang dicintai.

Matt berharap proyek ini akan membantu menghilangkan isu buruk tentang umat Islam dengan membongkar stereotip palsu yang ada, dan berbagi pengalaman mengenai umat Islam.


Mohamed merasa paling bahagia ketika ia melakukan pekerjaan sosialnya. (Foto oleh Matt Palmer)

"Setelah Paris menyerang tahun lalu, ada banyak informasi salah yang keluar di publik tentang orang Islam," kata Fotografer 32 tahun ini.

"Saya sangat lelah mecoba berdebat dengan orang-orang atau memberikan kepada mereka informasi yang benar, jadi saya pikir ‘apa yang bisa saya lakukan sebagai seorang fotografer untuk membantu, bukan hanya komunitas muslim namun seluruh masyarakat dan mungkin menunjukkan sisi yang berbeda tentang umat islam, bahwa umat islam bukan seperti apa yang mereka sangka?'."

Dari sanalah ide tersebut lahir dan telah menghabiskan waktu berbulan-bulan sebelum berkembang menjadi seperti sekarang ini.

"Tujuan kami adalah untuk mendapatkan 20 sampai 30 orang yang terlibat. Ternyata telah tersabar melalui mulut ke mulut. Pada hari itu, orang-orang membawa teman-teman mereka (hari wawancara) , dan teman-teman mereka itu melihat apa yang sedang terjadi dan berpikir bahwa proyek ini adalah ide besar sehingga mereka akhirnya terlibat juga,” kata Matt.


Sara merasa biasa saja dengan hijabnya. (Foto oleh Matt Palmer)

Matt Palmer, seorang ateis, mengatakan proyek itu membuka matanya tentang kebaikan Islam. "Saya tidak memiliki agenda apapun dalam hal mempromosikan itu(Red: Islam). Namun apa yang ingin saya lakukan adalah mempromosikan orang-orang yang terlibat," kata Palmer.

"Sebagian besar pertanyaan saya adalah mengenai  kehidupan sehari-hari  karena saya merasa proyek ini tentang orang-orang yang kebetulan mereka adalah Muslim.”

"Saya belajar banyak hal, terutama bahwa orang-orang Islam yang saya ajak bicara itu lebih nyaman ,dibandingkan dengan orang-orang yang telah ada dalam hidup saya, orang-orang Islam lebih senang dalam bermasyarakat juga membantu orang lain."

Ia menerangkan, “Saya hanya bertanya satu pertanyaan khusus tentang Islam kepada mereka ketika saya berbicara dengan mereka ‘apakah arti keyakinan Anda bagi Anda sendiri?` Itu bukan ajakan untuk masuk dan berbicara tentang Islam, itu juga bisa menjadi ajakan untuk berbicara tentang bagaimana mereka percaya bahwa hewan harus diperlakukan dengan baik karena memiliki keyakinan di luar agama, tentu saja.”

Keinginan Matt adalah suatu hari dia bisa membawa karyanya untuk dipamerkan di suatu tempat secara nyata. (ABC Australia/Generasi Sholeh)

Fachrizal Wicaksono

Fachrizal Wicaksono [Kontributor]

Seorang mahasiswa Universitas MH. Thamrim Fakultas Ekonomi semester 2. Pernah menjadi Ketua Broadcasting di SMA, menulis jalan cerita film. Saya seorang muslim. Pandangan saya tentang Agama Islam adalah agama kemanusiaan, manfaatnya tidak hanya dirasakan oleh umat islam saja, namun oleh seluruh umat manusia. Kedatangan islam telah membawa nikmat dan rahmat ke seluruh muka bumi dan tidak membedakan segala bangsa dan ras. Islam termasuk agama yang selalu membawa umatnya menuju perdamaian