Pesan KTT OKI ke-13, Tenggang Rasa dan Bersatu untuk Menyelesaikan Masalah Kemanusiaan
Foto via www.oic-oci.org

Pesan KTT OKI ke-13, Tenggang Rasa dan Bersatu untuk Menyelesaikan Masalah Kemanusiaan

  • Sabtu, 16 April 2016
  • M. Reza
  • News

Istanbul - KTT OKI ke-13 telah ditutup. Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan, menyerukan kepada umat islam untuk tidak berpangku tangan atas apa yang dihadapi saat ini.

“Kenapa kita bisa mengharapkan orang lain untuk meyelesaikan masalah umat islam? Kita yang seharusnya bisa menyelesaikannya sendiri. OKI ada untuk tujuan itu,” Jumat (15/4/2016).

Lanjutnya, pentingnya OKI sebagai organisasi yang menaungi berbagai kondisi dan status dari para negara anggota. Tenggang rasa dan persatuan adalah kunci untuk menelaah kejadian yang ada dan berupaya menyelesaikannya. Terorisme misalnya, umat Islam lah yang paling menderita dari teror yang terjadi di dunia. Padahal dunia saat ini membutuhkan kedamaian dan kesejahteraan, seperti yang tergambarkan dari yang dialaminya.

“Kenapa para negara dan bangsa Islam menjadi yang paling menderita dari terorisme? Siapakah yang ada di belakang teror-teror ini? Negara manakah yang mengalami ini? Ini harus diperjelas.”

Persatuan, meninggalkan ego, menurut Wakil Presiden Republik Indonesia, Jusuf Kalla (JK) yang berbicara dalam sesi debat  KTT OKI adalah salah satu cara untuk menanggulangi masalah umat islam saat ini, terutama kemiskinan dalam kebodohan. Konflik-konflik yang terjadi memperparah kondisi ini..

“Dunia Islam sepertinya tidak berdaya melihat situasi ini.”

“Dunia Islam yang terperangkap oleh konflik, kemiskinan dan bencana kemanusiaan. Dunia Islam yang semakin terpecah belah,” ujar JK yang didapuk sebagai pembicara pertama.

Padahal, Islam saat ini mampu mengakhiri ini semua. Karena menurut JK, saat ini jumlah penduduk negara-negara OKI digabungkan, jumlahnya mencapai sekitar 1,7 miliar jiwa, atau 22,7 persen dari seluruh populasi duni. Terlebih lagi usia produktif terbesar yang ada di dunia dimiliki negara-negara Islam dengan proporsi 53,3 persen.

Produk domestik bruto (PDB)nya rata-rata mendekati US$ 10.000 dan 2/3 cadangan minyak dan gas dunia milik negara-negara OKI.

“Sudah waktunya OKI merubah pandangannya. Keluar dari zona nyaman serta pendekatan business as usual. Beradaptasi pada kondisi dan realitas baru.”

“Kita harus memperkuat persatuan kita serta berkontribusi untuk memberi solusi bagi tantangan yang dihadapi negara-negara Islam dan komunitas internasional,” sahut JK.

Penutup yang diberikan Erdogan menggarisbawahi dan membuka arah baru peran OKI untuk umat islam dan dunia . “Saya percaya dengan pertemuan Istanbul ini kita menyampaikan sebuah pesan akan keadilan dan kedamaian, tidak hanya kepada umat Islam, juga kepada seluruh dunia”.

OKI sebagai organisasi internasional kedua terbesar setelah PBB diyakini akan mampu mengubah persepsi Islam di mata dunia serta mampu menyelesaikan masalah-masalah kemanusiaan yang terjadi saat ini.. Tenggang rasa yang menciptakan perdamaian dan persatuan diantara sesama negara Islam menjadi kunci penyelesaian masalah tanpa harus berpangku tangan kepada pihak lain.