Profesionalisme Sakti Al Fattaah Sebagai News Anchor, Suami dan Ayah
Foto via Sakti Al Fattaah bersama keluarganya

Profesionalisme Sakti Al Fattaah Sebagai News Anchor, Suami dan Ayah

  • Sabtu, 28 Mei 2016
  • M. Reza
  • Sosok

Keluarga menjadi hal yang utama bagi seorang news anchor Net TV Sakti Al Fattaah. Hidup untuk keluarga merupakan salah satu cara yang diandalkan Sakti untuk menuju Surga sebagai tujuan utama hidupnya.

“Peran sebagai hamba Alloh tentunya adalah yang paling utama, karena sebagai orang islam. Masuk surga, selamat dari neraka Allah adalah tujuan kita bersama,” ucapnya.

Buat Sakti, keluarga adalah cerminan dirinya. Ia sangat mengutamakan keluarga, menurutnya, sebagai orang tua, haruslah lebih banyak menghabiskan waktu dan ada saat momen-momen menentukan bagi istri dan anak. Pekerjaan yang dilakoni, utamanya adalah untuk keluarga, bukan hanya untuk dirinya.

Saat ini, Sakti bekerja sebagai news anchor di Net TV. Jadwal siarannya sekitar 25 kali setiap bulan. Sebagai seorang profesional, ia harus selalu siap untuk menerima jadwal siaran, kapanpun waktunya. Dengan jadwal siaran yang bervariasi, mulai dari pagi, siang, sore hingga tengah malampun, diterimanya agar dapat selalu bisa menyampaikan informasi kepada para pemirsa Net TV. Belum lagi kesibukannya bertambah. Saat ini ia juga sedang mengambil kuliah program S2 di Universitas Mercubuana.

Kunci agar bisa tetap meluangkan waktu bersama keluarga menurut Sakti adalah manajemen waktu. “Manajemen waktu yang baik jadi kunci utama.” Menurutnya sebagai Ayah, juga harus terlibat dalam mendidik anak apalagi mendidik agama sang anak. Investasi yang paling tepat adalah investasi waktu untuk anak, hadir di setiap momen penting mereka.

“Orang tua harus lebih banyak menghabiskan waktu lebih banyak untuk anaknya, bukan menghabiskan lebih banyak uang untuk anaknya,” jelasnya.

Saat ini Sakti dan istri, Ranggunia Indra Putri (Anggun) memiliki 4 orang anak. Kesemuanya adalah laki-laki, yaitu Muhammad Ibrahim Al Fattaah (7th), Muhammad Ikram Al Fattaah (5th), Muhammad Izzan Al Fattaah (3th), dan Muhammad Ishaq Al Fattaah (10 bulan).

Dengan 4 orang anak, tentunya seisi rumah akan bisa sangat ramai walau mungkin ketika dilihat dari luar, keluarga mereka mungkin terlihat kalem. ”Tapi kalau sudah di rumah kelihatan deh aslinya, rame! Seru! Saking serunya kadang suka ada yang nangis ketika sedang bercanda di rumah,” ujar Sakti.

 

Sakti Menikah Muda

Sakti dilahirkan di keluarga yang sangat religius, sehingga baginya ketika meramut keluarganya, akhirat adalah prioritas utama. Bagi sakti, ibadah tetep harus didahulukan setelah itu baru keluarga dan pekerjaan mengikuti.

“Keluarga dulu baru pekerjaan, tapi tetep ibadah harus nomor satu baru keluarga,” tegasnya.

Ternyata Sakti bisa menjadi seperti ini, karena dalam hidupnya, banyak perjuangan yang telah dilaluinya. Salah satunya adalah saat Sakti mulai memasuki mahligai rumah tangga. Inilah yang membuatnya sangat mencintai keluarga. Pernikahannya dimulai saat sedang genting-gentingnya menghadapi tugas akhir sebagai mahasiswa di Yogyakarta. Kala itu ia berusia 21 tahun dan istrinya saat itu berusia 19 tahun. Walaupun cukup muda, tetapi itulah yang Sakti inginkan dalam hidupnya.

“Godaan saya banyak dari wanita. Makanya untuk menjaga agama saya, menurut saya, saya harus nikah muda. Dan emang cita-cita nikah muda juga.”

Proses yang dilakukannya untuk memulai berkeluarga saat itu menurutnya sangat cepat. Sakti menikahi Anggun setelah hanya berkenalan selama sebulan. Walau diimulai di media sosial, tanpa basa basi ia menyeriusi agar bisa menikah dengan bertamu ke rumah calon mertuanya.


Sakti Al Fattaah bekerja sebagai pembawa berita di Net TV

Awalnya, Sakti mendapat cerita dari temannya bahwa ada seorang perempuan Jakarta yang kuliah di Jogjakarta. Cerita itu menggambarkan seorang Anggun yang memiliki banyak kesamaan dengannya. Halaman media sosial menampilkannya dengan tepat sehingga ia memulai dengan mengirim pesan. Baru setelah 4 bulan, Anggun akhirnya menjawab pesan pertama yang dikirimkan olehnya. Kemudian tanpa banyak obrolan di media sosial, mereka bertemu untuk pertama kalinya dengan ditemani oleh beberapa teman mereka.

Tak butuh waktu lama, mahasiswa berkacamata itu akhirnya memutuskan untuk menikahi Anggun yang sama-sama berasal dari Jakarta. Skripsi saat itupun diabaikan sementara untuk fokus bagaimana ia jadi menikah dengan Anggun. “Jadi masalah lagi skripsi saya gak pikirin.” Sakti mengambil keputusan untuk menikahi Anggun setelah ia beristikhoroh. “Makanya mantep saya lamar,” yakinnya.

Ketika Sakti pulang ke Jakarta untuk bilang kepada orang tuanya bahwa ia akan menikahi seorang mahasiswi. Orang tuanya sangat kaget mendengar anaknya ingin menikah. “Katanya, ‘mau dikasih makan apa anak orang?’ Saya bilang, ‘dikasih makan nasi lah,’” tuturnya. Sakti mampu meyakinkan keluarganya bahwa urusan keuangan dan rezeki tidak akan jadi masalah dan sangat yakin dengan pertolongan Allah.

“Toh, saya tiap bulan dapat kiriman dari orang tua saya, istri saya juga begitu. Adapun sementara sampe saya lulus (dan) dapat kerja, ya tinggal digabung aja uang kirimannya buat hidup berdua,” jelasnya. Keluarga Anggun pun menurutnya cukup kaget mendengar anak perempuannya yang masih 19 tahun ingin menikah. “Mereka bilang katanya nikah itu gak main-main loh, kata istri saya adek juga gak main-main Yah,” lanjutnya.

Akhirnya, orang tua Sakti mengantarkan dirinya melamar Anggun. Ia akan menikahi Anggun walaupun status keduanya sama-sama masih mahasiswa. Calon mertuanya menerima keseriusannya tanpa terlalu membebani mahasiswa tingkat akhir ini. “Kata mertua saya, ‘iya mas, saya juga gak nuntut apa-apa, ngerti keadaan mas masih kuliah. Saya Cuma minta mas cepat lulus kuliah aja dan segera cari kerja,’” ulangnya menirukan.

Ia saat itu hanya memikirkan dirinya bagaimana bisa memiliki istri dan tak muluk-muluk untuk merayakan pernikahannya secara mewah. Mertuanya pun sepakat dengannya sekaligus memberikan wejangan kepada Sakti dan Anggun. “Mertua saya nanya, ‘mau nikah dimana nanti mas? di gedung atau di rumah aja secara sederhana?’ Saya bilang ‘terserah Om saja, yang penting udah nikah, halal, Saya sudah senang.’ Terus mertua saya kasih wejangan, ‘yang penting itu bukan pestanya, yang penting ke depannya.’” Akhirnya dua mahasiswa Jogjakarta itu menikah secara sederhana dengan hanya melangsungkan dan merayakan pernikahan mereka di rumah.

Sakti kembali ke Jogjakarta memulai hidup berdua bersama Anggun di rumah orang tuanya. Rumah itu memang hanya dikunjungi keluarganya jika mereka sedang berlibur di sana. Jarak dari rumah ke kampus yang cukup jauh, sekitar 30 km, tidak mengendurkan semangatnya untuk menyelesaikan kuliah. Nasihat mertua berhasil dilakoninya. Skripsinya selesai dan ia pun lulus menjadi sarjana dengan tepat waktu. Nilainya pun cukup memuaskan dengan ipk diatas 3.

Proses yang dijalaninya untuk memulai dan menjalani berkeluarga membuatnya dewasa dalam rumah tangga. Sebisa mungkin ia membantu istrinya untuk melakukan pekerjaan rumah tangga. Sakti selalu bermusyawarah dengan sang istri dalam mengambil keputusan rumah tangga . Menurutnya suatu keputusan yang diambil secara bermusyawarah akan lebih berkah hasilnya.

Sebagai pekerja, news anchor berkaca mata ini akan selalu siap untuk menyampaikan berita kapanpun ia ditugaskan. Sebagai suami, lelaki ini akan memenuhi cintanya dan selalu hormat kepada Ranggunia Indra Putri. Sebagai Ayah, Sakti akan mencurahkan kasih sayang kepada seluruh keempat anaknya dan mewajibkannya menjadi seorang figur dan teladan untuk mereka. Sebagai manusia, beribadah baginya adalah utama sembari terus mengharapkan rahmat dari Allah SWT.

Ini adalah buah dari proses pembinaan religius yang membentuk Sakti Al Fattaah sejak kecil hingga menjadi seperti sekarang ini. Ia yang bercita-cita menjadi pengusaha sukses pun hanya agar ia dapat membagi waktunya lebih banyak untuk beribadah, juga untuk menjaga keluarganya. Adapun saat ini, dalam profesinya sebagai pembawa berita, ia sedang beribadah sosial untuk membantu mencerdaskan masyarakat.